Belajar adalah hal yang tidak direncanakan. Beda halnya dengan pembelajaran, pembelajaran adalah proses yang direncanakan untuk mencapaia satu tujuan. Itu sedikit teori yang saya pahami dari bangku perkuliahan saya. Ada desain pembelajaran tapi tidak ada desain belajar, dan itu salah satu tanda bahwa belajar memang tidak direkayasa tapi proses yang terjadi di sekeliling manusia apapun itu baik hasil interaksi dengan temannya, keluarganya, gurunya, atau apapun itu yang menjadi lingkungan belajarnya yang akan membuat seseorang belajar darinya. Itu yang saya pahami.
Hikmah yang begitu luar biasa yang aku dapat saat idul fitri kemarin tentang hidup. Bahwasanya kita akan mengalami beberapa fase dalam kehidupan, mulai dari bertarungnya sel telur dan sel sperma sampai terbentuknya janin, lalu lahir seorang bayi dari ibu kita masing-masing,lalu menjadi balita,remaja, orang tua, dan menjadi nenek bahkan uyut, dan seterusnya sesuai umur yang ALLAH gariskankan sesuai takdirnya masing-masing.
Hari lebaran kedua idul fitri kemarin saya dan keluarga saya yaitu nenek (dari mamah, karena dari ayah sudah meninggal), mama, papa, teh eneng (kaka perempuan pertama saya) dan om thorik (suaminya), dua keponakan saya yang lucu Fathin (laki-laki berumur 10 tahun) dan Arifa (Perempuan berumur 4 tahun), salis (adik perempuan saya), uwa eman (kaka ibu saya), uwa aat (istri dari uwa eman), icha (putrid ke2 wa eman), dan tentunya saya, pergi bersilaturahim ke Bekasi tempat tinggal the dewi (kaka pertama saya) termasuk keluarga saya yaitu adik dari nenek saya.
Kami pergi kurang lebih set 1 siang tepat setelah shalat dzuhur dari sukabumi. Menggunakan mobil kijang Innova yang di pinjamkan kantor Uwa eman beberapa hari dan dikendarai oleh om thorik (*panggilan saya untuk suami kaka kedua saya). Perjalanan kami tempuh sekitar 4 jam melewati jalur” alternativenagrak dan sekitarnya untuk menghindari cibadak dan parung kuda yang merupakan jalan yang rawan kemacetan arah sukabumi Jakarta. Sepanjang perjalanan kami saling bercerita tentang keadaan masing-masing sambil diselingi oleh candaan yang sering dilontarkan oleh Om Thorik, karena memang dia orang yang cukup humoris kadang tegas juga..hehe peace om^_^ …
Saat bertemu dengan macet, arifah keponakan saya meminta diputarkan lagu dengan kata-kata kurang lebih seperti ini “bia (*panggilannya kepada saya) puterin lagu guruku, terus lagu anak-anak, terus nagji ya bia”..(sambil merengek dan menarik-narik HP yang saya pegang)…ya itulah urutan yang sering dia minta putarkan dari hp saya, lagu pertama ., berikut penjelasan tentang maksud keponakan saya:
1. lagu guruku yang dia maksud adalah lagu “Terima kasih guruku yang dinyanyikan AFI Junior” yang ada di HP saya..dan dengan lancarnya dia mengikuti lyrics yang ada dalam lagu tersebut(*maklum sejak pertama ku denagrkan lagu itu padanya, dia menjadi ketagihan untuk terus diputarkan lagu tersebut setiap bertemu denganku).
2. Lagu anak-anak yang -> lagu aku bisanya AFI Junior
3. Ngaji -> murottal surat-surat pendek yang dia hafal..(keponakan saya yang satu ini memang cukup banyak hafalan surat pendeknya, daripada teman-teman sepermainannya..semoga kelak engkua menjadi hafidzoh ya sayang)
Memang dia adalah salah satu keponakan yang paling dekat dengan saya, karena perempuan satu-satunya dan memang dari bayi saya cukup mengikuti perkembangannya, sampai akhirnya harus menetap di Jakarta bersama kedua orangtuanya..
Setelah mobil melaju dan memasuki Tol Akhirnya malah uwa eman dan icha yang meminta diputarkan bebarapa murottal yang mereka suka dan hafal..yang jelas bukan yang saya hafal..hehe..akhirnya suara dari asudais (murottal favoritku) menemani perjalanan dari tol sampai akhirnya sampai di tol bekasi..
Sebenarnya tujuan utama kita ke Bekasi itu untuk menengok kaka pertama saya yang baru saja melahirkan anak laki-laki ketiganya tepat H-2 idul Fitri. Setelah sampai di bekasi, mama pun langsung menelpon teh Dewi untuk menyanyakan Sedang ada dimana, khawatir masih berada di rumah mertuanya yang masuk ke gang-gang dan mobil sulit parkir atau di rumahnya yang rumahnya pinggirjalan dan memiliki halaman yang cukup luas untuk parkir mobil. Tapi karena kondisi waktu itu mama saya kasian melihat kondisi nenek saya yang mual-mual dan badannya sudah begiu lemas akhirnya, mama meminta mang duduh (suami teh dewi) untuk ke rumahnya terlebih dahulu saat mengetahui teh dewi masih di rumah mertuanya.
Kami sampai sekitar pukul set 5 sore itu disambut oleh Mang Duduh seorang diri. Dan Selang beberapa menit kami sampai ternyata teh dewi memboyong bayinya ke rumahnya dan meninggalkan rumah mertuanya dengan Becak. Akhirnya saya pun melihat keponakanku yang kelima yang diberi nama Umar (*kepanjangannya belum ada tapinya)..semoga kelak engkau menjadi anak yang shaleh dan berani menegakan kebenaran di muka bumi ini dengan gagah berani seperti Umar bin Khattab..amin^_^..

Ini Keponakan baruku yang ke 5
Setalah istirahat sejenak dan makan-makan, kami Shalat Maghrib dan berangkat jalan Kaki Menuju Rumah Mimi UCU (adik Nenekku yang juga mertua The Dewi). Ketika sampai disana kita semua Kaget bukan sembarang kaget, kaget yang membuat semua orang yang ada saat itu mungkin ketakutan mendengar ungkapan marah dari seorang nenek yang merasa tidak dianggap oleh keponakan yang dulu sempat tinggal bersamanya. Uwa eman yang waktu itu duduk tepat di sebelah dan disebut-sebut terus dalam kekesalannya pun tidak bisa berkata apa-apa melihat sang nenek seperti itu dengan menyebutkan beberapa alasan yang menurut saya inti semuanya itu salah paham. Hanya karena masalah yang sedang menumpuk dalam pikirannya, terus ditambah karena kita tidak langsung ke rumahnya mimi ucu, kita langsung ditegur dengan caranya (*yang biasa dia lakukan saat dia sedang kesal) sampai akhirnya marah-marahnya berhenti sampai kakanya datang yaitu nenekku dengan becak menyusul kami, dan setelah itu keduanya menangis seperti kaka adik yang sudah lama tidak bertemu dan sang adikpun meminta maaf pada sang kaka..(*sejenak semuany hening saat itu, kecuali isak tangis dari keduanya yang membuncah), setelah beberapa lama akhirnya uwa eman langsung menceritakan kronologis ceritanya kenapa tidak langsung ke rumah mimi ucu saat kita tiba di bekasi. Walaupun Tidak membuat hilang kekesalannya, tapi sedikit mau mendengarkan apa yang dikatakan Uwa Eman pada beliau. Sebenarnya kalo dilihat masalahnya sepele, beliau kesal merasa tidak dianggap sebagai sodara, karena tidak dikunjungi langsung saat kita tiba di bekasi, hanya siapa yang tahu keadaan psikologis mimih saat itu sedang kurang baik, sehingga menjadi masalah yang besar baginya. Dari mereka akhirnya kita (*baca saya dan keluarga) semua belajar jika kelak kita sudah menjadi orang tua kita harus lebih bijak lagi dalam melihat dan menyikapi masalah, dan kita belajar untuk tidak berfikir negative terhadap apapun tetaplah berpositif thinking terhadap apapun. Dan kelak kita akan menjadi tua, so selagi muda dan kuat untuk berjalan, sering-seringlah berkunjungterhadap sanak saudara yang masih ada, karena jika kita tua dan badan sudah mulai melemah, maka anak dan cucu kita tidak akan enggan mengunjungi kita. Semoga bermanfaat dan kita bisa mengambil hikmah dalam setiap kejadian yang terjadi di sekitar kita.

Dan ini kaka,adik, dan keponakanku
Mira Maemunah
Bandung, 05 sept 2011
23.56
Tidak ada komentar:
Posting Komentar